SMPN 1 Sumenep Terapkan Bahasa Madura Selama MPLS, Wali Murid Diajak Bangun Kolaborasi

PERIHAL.ID, SUMENEP – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 1 Sumenep tahun ajaran 2026/2027 yang akan dilaksanakan pada 13-17 Juli 2026, nantinya menghadirkan nuansa berbeda.

Seluruh rangkaian kegiatan, termasuk komunikasi selama MPLS, diwajibkan menggunakan bahasa Madura sebagai implementasi Peraturan Bupati Sumenep Nomor 55 Tahun 2025 tentang pelestarian bahasa daerah.

Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu sejak hari pertama peserta didik memasuki lingkungan sekolah.

Hal itu disampaikan Kepala SMPN 1 Sumenep, Syaiful Rahman Dasuki saat sosialisasi Program Sekolah di Gedung Ki Hajar Dewantara, Sabtu (11/7/2026). Menurutnya, penggunaan bahasa Madura telah disepakati dalam rapat koordinasi seluruh kepala SMP negeri dan swasta bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep.

“Pada saat MPLS, penggunaan bahasa Madura menjadi bagian dari implementasi Perbup Nomor 55 Tahun 2025. Seluruh narasumber juga kami dorong menggunakan bahasa Madura agar anak-anak semakin mencintai bahasa ibunya,” ujarnya.

Selain sosialisasi program sekolah, pertemuan bersama orang tua siswa baru sebagai bagian dari ketentuan MPLS sesuai Permendikdasmen.

Dalam kesempatan itu, Syaiful mengajak seluruh wali murid membangun hubungan yang erat dengan sekolah demi mendampingi perkembangan anak selama tiga tahun ke depan.

“SMPN 1 selalu mengadakan pertemuan dengan wali murid badhan kaule terro nyambungaghi atè sareng panjhenengan (baca: ingin menyambung hati dengan kalian). Manabi ate tasambung, badhen kaule delem adampingi potra potre panjengengan lebih sae (Kalau hati sudah tersambung, kami bisa mendampingi putra-putri bisa lebih baik),” tuturnya dalam bahasa Madura.

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, mengajak seluruh siswa untuk bangga menggunakan bahasa Madura sebagai identitas budaya.

“Mari bersama-sama menggaungkan kecintaan terhadap budaya Madura. Penggunaan bahasa Madura saat MPLS merupakan bagian dari upaya menjaga bahasa ibu agar tidak ditinggalkan generasi muda,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep, Mulyadi menegaskan pendidikan tidak cukup hanya diserahkan kepada sekolah. Menurutnya, kolaborasi antara guru dan orang tua menjadi kunci keberhasilan pembentukan karakter peserta didik.

“Anak hanya sekitar delapan jam berada di sekolah. Selebihnya mereka bersama keluarga. Karena itu, kerja sama orang tua dan sekolah menjadi prasyarat mutlak agar pendidikan berjalan optimal,” katanya.

Ia juga mengucapkan selamat kepada seluruh orang tua yang putra-putrinya diterima di SMPN 1 Sumenep, sekaligus mengingatkan pentingnya mengawal karakter, etika, dan lingkungan tumbuh kembang anak di era digital.

Ketua Komite SMPN 1 Sumenep, dr. Rifni Utami menambahkan komite bersama paguyuban orang tua akan menjadi mitra sekolah dalam mendukung proses pendidikan, termasuk mengawasi anak di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.

“Nantinya akan dibentuk ketua paguyuban tiap kelas untuk rembuk bersama dengan komite untuk kemajuan sekolah dan siswa. Saya harap bapak/ibu bisa menjalin kerjasama, karena kami akan selalu menerima masukan maupun ide yang disampaikan,” tutupnya.(*)

Komentar