PERIHAL.ID, SUMENEP – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep menegaskan komitmennya dalam membangun jurnalis muda yang profesional, beretika, dan peka terhadap isu perlindungan anak melalui Akademi Jurnalistik pada Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) bersama LPM Retorika Universitas PGRI Sumenep (UPI), Jumat (01/05/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) menjadi materi utama yang dinilai krusial di tengah masih maraknya pemberitaan yang berpotensi membuka identitas maupun trauma korban anak.
Dewan Penasehat PWI Sumenep, Moh. Rifa’i, menegaskan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab besar, bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga agar pemberitaan tidak memperparah penderitaan korban.
“Seharusnya kita lindungi itu, karena kalau kita membuka aibnya, itu bisa membuat korban mengalami trauma dua kali,” ujarnya.
Menurutnya, pemberitaan yang serampangan terhadap kasus anak, khususnya kekerasan seksual, dapat berdampak panjang secara psikologis dan sosial bagi korban. Karena itu, pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Pers, serta regulasi perlindungan anak wajib menjadi landasan utama dalam praktik jurnalistik.
Rifa’i juga menyoroti bahwa masih banyak jurnalis pemula yang belum sepenuhnya memahami sensitivitas isu perlindungan anak, sehingga forum edukatif seperti DJTL dinilai penting untuk memperkuat kompetensi sekaligus tanggung jawab moral calon wartawan.
“PWI harus hadir juga untuk mempertebal ilmu itu sehingga berita tidak serampangan, karena ada juga persoalan atau konsekuensi hukumnya,” lanjutnya.
Sementara itu, peserta dari LPM Retorika UPI Sumenep, Fakhrul Kurniawan, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya etika peliputan di lapangan.
“Banyak menambah wawasan saya tentang bagaimana kode etik ketika jurnalis turun ke lapangan meliput suatu peristiwa,” ujarnya.
Ketua PWI Sumenep, Faisal Warid, menambahkan bahwa Akademi Jurnalistik merupakan bagian dari upaya organisasi dalam menyiapkan generasi wartawan yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial tinggi.
“Kami sangat terbuka, ketika teman-teman ingin berkonsultasi, menambah ilmu, bahkan jika ingin magang bersama wartawan PWI, kami terbuka untuk itu,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, PWI Sumenep berharap mahasiswa dan calon jurnalis mampu memahami bahwa profesi wartawan tidak hanya soal kecepatan informasi, tetapi juga soal menjaga nilai kemanusiaan, etika, dan perlindungan terhadap kelompok rentan.(*)








Komentar