Waspadai Trauma Pasca Gempa: Saat Bumi Tak Lagi Berguncang, Tapi Tubuh Masih Merasakannya

PERIHAL.ID – Setelah gempa bumi terjadi, tidak semua luka terlihat. Banyak orang selamat secara fisik, namun tanpa disadari menyimpan luka psikologis yang tak kalah berat — trauma pasca gempa.

Trauma yang dimaksud adalah ketika gempa terjadi berulang atau gempa dengan korban, dalam benak seolah akan terjadi gempa susulan. Sehingga setiap kita merasakan sedikit goncangan langsung berpikiran terjadi gempa.

  • Mengapa Masih Terasa Seperti Gempa?

Banyak penyintas gempa mengaku masih merasakan getaran, padahal tanah sudah stabil. Kondisi ini disebut “phantom quake” atau sensasi gempa palsu.

Fenomena ini terjadi karena otak dan sistem saraf masih siaga tinggi setelah mengalami kejadian yang menakutkan. Otak mengingat pengalaman guncangan hebat, sehingga ketika tubuh menerima rangsangan kecil seperti hembusan angin, suara kendaraan, atau getaran kipas angin, otak salah menafsirkan sinyal itu sebagai gempa.

⚠️ Gejala yang Perlu Diwaspadai

Trauma pasca gempa bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Merasa bumi masih bergoyang meskipun sebenarnya tidak.
  • Jantung berdebar, panik, atau sesak setiap mendengar suara keras.
  • Mudah terkejut dan sulit tidur.
  • Takut berada di dalam ruangan atau bangunan bertingkat.
  • Muncul rasa cemas berlebihan dan sulit berkonsentrasi.

Jika gejala ini berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu aktivitas, kemungkinan besar terjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD).

💡 Langkah-Langkah Mengatasi Trauma Gempa

  1. Akui dan pahami rasa takut. Itu reaksi wajar setelah peristiwa besar.
  2. Batasi paparan berita atau video gempa. Terlalu sering melihat ulang kejadian bisa memicu stres berulang.
  3. Latih pernapasan dan relaksasi otot. Coba tarik napas dalam 4 detik, tahan 2 detik, lalu hembuskan perlahan 6 detik.
  4. Bangun rutinitas normal kembali. Aktivitas harian membantu otak merasa aman dan stabil.
  5. Cerita dan dukungan sosial. Berbagi dengan keluarga, teman, atau kelompok penyintas sangat membantu pemulihan mental.
  6. Konsultasi ke profesional. Jika rasa takut makin kuat atau tubuh terus “merasa gempa”, segera temui psikolog atau psikiater untuk mendapat terapi lanjutan.

Ingat, trauma pasca gempa bukan tanda kelemahan, tapi reaksi alami manusia terhadap pengalaman ekstrem. Dengan dukungan yang tepat, tubuh dan pikiran bisa pulih, hingga tak lagi merasa berguncang setiap kali bumi diam.(*)

Komentar